Kamis, 2009 Februari 26

MEMBERI BELUM TENTU MENDIDIK

Para anak kecil berlarian menghampiri kendaraan-kendaraan yang berhenti karena tercegat oleh lampu merah. Setelah itu, mereka menghampiri kendaraan satu persatu sambil mengulurkan tangannya tanda meminta uang. Terkadang ada beberapa anak yang jika tidak diberi uang, lalu memukul atau mencubit dan memaki dengan kata-kata kasar terhadap orang yang ia pinta-pintai. Hingga terkadang orang-orang terpaksa memberi uang agar tidak dikasari oleh mereka, padahal membudayakan memberi pengemis sangat tidak mendidik. Setelah anak-anak itu mendapatkan hasil, mereka kemudian berlari kembali kearah trotoar dan memberikan “panen”nya ke Ibu mereka masing-masing yang menunggu mereka sambil mengobrol satu sama lain dan memakai perhiasaan emas sambil membawa HandPhone yang tergolong canggih.
Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya nan tenteram serta kota dengan pendidikan yang terbilang lebih maju dibanding dengan kota lain, tetap saja terdapat permasalahan kemiskinan yang terwujud melalui banyaknya kumpulan pengemis diberbagai daerahnya. Padahal kota Yogya kini telah beranjak menjadi kota metropolitan yang semakin berkembang dan maju. Terbukti dengan banyaknya tempat perbelanjaan mewah baru seperti Plaza Ambarukmo, Saphir Square dan beberapa kawasan perbelanjaan. Belum lagi menjamurnya arena gaul dan tempat nongkrong anak muda dengan status ekonomi sosial menengah keatas.
Namun sejalan dengan perkembangannya, fenomena diatas sering kita jumpai di kota Yogya ini. Namun yang paling kentara dan belum ada perubahan positif yakni di pertigaan lampu merah Universitas Negeri Islam Sunan Kalijaga. Sangat menyayat hati ketika anak-anak kecil dari siang hingga hampir tengah malam mengemis namun ibu-ibu mereka hanya duduk-duduk dan tinggal menadahkan tangan menerima hasil mengemis anak-anaknya.
Kegiatan meminta-minta dipinggir jalan atau ditempat umum sudah tidak lagi berdampak afeksi dewasa ini. Fenomena yang sudah membudaya secara turun temurun bagi pihak yang melakoninya, telah menimbulkan banyak keprihatinan oleh berbagai kalangan. Sayangnya, bagi pihak pemberi uang malah juga membudayakan diri dengan memberi uang dengan berbagai alasan, tanpa memikirkan aspek psikologis dan pendidikan. Pihak pemerintah pun tidak memprioritaskan permasalahan ini, hingga kemalasan pengemis semakin diluar batas, padahal banyak diantara mereka yang tergolong mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Seperti yang diungkapkan Briptu Dani, seorang polisi yang bertugas menjaga pos polisi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, “ saya juga bingung, katanya pengemis tapi kok itu pengemis pada bawa hp, pada telepon-teleponan dan pake perhiasan, karena saya lihat sendiri, saya jadi gak habis pikir “. Hampir semua orang yang melewati pertigaan UIN Sunan Kalijaga melihat langsung ibu-ibu dari pengemis anak disana duduk ditotoar dengan menggunakan perhiasaan dan membawa Handphone. Bahkan terkadang mereka mengeluarkan lembaran-lembaran uang lima puluh atau seratus ribuaan.
Adapun faktor utama penyebab timbulnya kalangan pengemis di Indonesia adalah karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa kealpaan pemerintah dalam mengatasi masalah ini juga menjadi faktor terus menambahnya pengemis. Jika pemerintah lebih memprioritaskan aspek pendidikan dan kemiskinan di negara kita, dan bukan malah berkutik dalam kancah politik untuk memperebutkan kekuasaan, pasti keberadaan pengemis yang sebenarnya sangat krusial paling tidak berkurang. Namun peranan pemerintah dalam masalah ini sangat minim karena tidak pemerintah prioritaskan, padahal kalau dilihat secara luas, permasalahan keberadaan pengemis ini menyangkut kesejahteraan dan kelangsungan hidup seluruh Warga Indonesia.
Sementara itu, paling tidak ada beberapa kalangan kritis yang merasa fenomena yang terjadi dalam masalah pengemis ini menunjukan kelemahan manajemen pemerintah pusat maupun daerah dalam megurus dapur rumah tangga mereka. Banyaknya khilaf dan kelalaian dalam mengatasi masalah pengemis ini menjadikan masyarakat semakin tidak percaya akan rezim pemerintahan di Indonesia.
Kegiatan mengemis di pertigaan UIN Sunan Kalijaga dan daerah-daerah lainnya yang ada di Yogya ataupun Indonesia telah menimbulkan banyak keprihatinan dari beberapa pihak dan kalangan. Hal ini disebabkan karena kegiatan tersebut bukan lagi sebagai sarana untuk membantu fakir miskin, namun sudah dijadikan sebagai profesi pihak-pihak yang melakoninya. Bahkan hampir disemua daerah di Indonesia terdapat mafia yang mengkoordinir untuk kegiatan ini. Beberapa hal yang dilakukan oleh mafia tersebut yakni seperti penyediaan anak kecil untuk melakukan pekerjaan meminta-minta, penyewaan anak kecil atau bayi sebagai sarana yang akan menimbulkan rasa kasihan atau aspek afeksi bagi orang-orang yang melihatnya lalu akan memberi santunan bagi pengemis. Selain itu banyak kegiatan yang dilakukan anak jalanan, gelandangan dan pengemis seperti mengelap kendaraan yang berhenti dilampu merah, menyapu kendaraan umum lalu meminta kompensasi dengan paksa, membuat masyarakat menjadi tidaknyaman. Belum lagi dengan adanya permintaan santunan dari lembaga-lembaga atau instansi agama dan sejenisnya yang tidak jelas keberadaanya serta visi dan misinya.
Kejadian-kejadian seperti itulah yang terkadang luput dari koordinasi pemerintah. Tidak terjaminnya pendidikan di Indonesia bagi masyarakat miskin memunculkan krisis moral bagi mereka. Lebih mengenaskan lagi yang terjadi pada anak-anak yang harus terpaksa mengemis. Anak-anak yang seharusnya masih dalam masa bermain dipaksa mengemis untuk menafkahi hidupnya atau orangtuanya.
“ Panas mbak kalo jam 1 siang “, ungkap Teguh, seorang pengemis anak di pertigaan UIN Sunan Kalijaga sambil menyerahkan uang yang baru ia dapat ke Bu Yanto, ibu nya. Bukan hanya teguh yang merasakan kepanasan, banyak teman-temannya juga yang merasakan panas bahkan kedinginan ketika mereka harus tetap mengemis di saat hujan turun. Permasalahan pengemis memang sudah seharusnya dijadikan prioritas oleh pemerintah dan harus segera di tanggulangi. Seperti yang diungkapkan Anneke Christine Clarenthia S, mahasiswi prodi Komunikasi, bahwa seharusnya pemerintah tidak hanya memberikan penyuluhan terhadap pengemis dan gelandangan, namun juga memberikan alternatif pekerjaan kepada mereka agar mereka tidak kembali mengemis.
Seyogiyanya pemerintah setelah memberikan penyuluhan, juga memberikan pendidikan dan pelatihan keterampilan. Contohnya saja ketermpilan membuat handycraft khas Indonesia yang kemudian menyediakan lapangan pekerjaan dan menjual serta mengekspor hasil pekerjaan mereka. Dengan demikian tidak hanya memberikan pekerjaan pada para gelandangan dan pengemis, namun pemerintah juga diuntungkan dari devisa yang masuk. Mungkin akan terasa sulit jika langsung megkoordinir di seluruh Indonesia, namun jika dimulai dari tiap-tiap daerah, mungkin akan sedikit lebih ringan (terkait dengan siatem desentralisasi). Selain itu juga, pemerintah akan konsisten menjalani pasal 34 UUD’45 yang mengatakan bahwa gelandangan dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.
Untuk kita semua juga diharapkan untuk lebih bijak lagi dalam memberi santunan bagi pengemis, karena jika kita terus-terusan memberi mereka santunan tanpa melihat bahwa sebenarnya mereka masih mampu bekerja, artinya kita hanya memanjakan mereka dan membuat mereka semakin malas bekerja. Kini, sudah selayaknya kita mendidik para pengemis khususnya yang berada di Yogya agar dapat mengandalkan diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka masing-masing.

MTV (MUSIC TELEVISION)

”Sebuah Sarana Pergeseran Budaya dan Kehidupan Sosial”

Menyadari peran media massa yang begitu kuatnya pada sistem yang terjadi di masyarakat membuat saya mengkritisi betapa kuatnya kontrol media yang telah terkonstruksi sedemikian rupanya. Salah satu fenomena yang terjadi adalah kuatnya efek sebuah program televisi dengan segmentasi anak remaja, yaitu MTV (Music Televition).
Sebuah program yang dibawa oleh Negara super power Amerika Serikat ini menjadi sebuah ‘kiblat’ yang sangat berpengaruh bagi sebagian anak muda dalam mengikuti arus kehidupan yang dikenal dengan tajuk “gaul”. Bentuk yang dihadirkan adalah segala trend terbaru, mulai dari musik, fashion, makanan, hingga lifestyle. Mengingat program yang didalangi oleh Amerika Serikat, tentu saja sajian dan kemasan di beberapa negara yang mendapatkan hak siar MTV termasuk Indonesia, juga memiliki kemasan yang tidak jauh berbeda. Hingga industri kapitalis seperti makanan, fashion hingga label perusahaan musik pun mendapatkan untung besar-besaran karena pesan-pesan yang ditampilkan oleh MTV.
Anak muda, atau anak remaja yang sedang puberlah yang menjadi sasaran utama oleh MTV. Ini disebabkan karena pada usia remajalah dimulainya awal pencarian identitas seksual dan pemfokusan pada pencarian jati diri, hingga emosi mereka masihlah sangat labil dan dapat dipengaruhi (ditanamkan sebuah konstruksi budaya) dengan sangat mudah . Mereka mulai lepas dari tradisi dalam rumah, mulai meninggalkan disiplin sosial dan berpotensi mengembangkan disiplin pribadi (mypalette.multiply.com).
Ketika melihat lebih jauh lagi, adanya MTV tidaklah hanya sekedar adanya saja. Tanpa sadar, acara-acara yang ditampilkan oleh MTV berpengaruh sangat kuat. Ketika MTV telah mem-’bandrol’ dirinya sebagai acara untuk anak ”gaul”, maka tertanam pula bahwa hanya mereka yang menonton MTV sajalah yang dapat dikatakan ”gaul”. Banyak propaganda yang ditanamkan melalui acara-acara tersebut. Dilihat dari perspektif Kolonialisme elektronik yakni sebuah penjajahan dalam bentuk pikiran dengan media massa sebagai sebuah sarana, MTV jelas saja telah menghasilkan hasil yang mengagumkan karena hampir semua target audiens MTV berperilaku seperti apa yang disampaikan serta dikonstrusikan oleh MTV.
Dalam Kolonialisme Elektronik dijelaskan bahwa penjajahan elektronik ini mencari pengaruh dan kontrol pikiran. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi sikap, kehendak, kepercayaan, gaya hidup dan perilaku konsumen, (Global Communication, McPhail 2006). Seperti yang dapat dilihat dalam kenyataan sehari-hari bahwa mereka yang mengkonsumsi MTV memiliki style dan lifestyle yang hampir sama bahkan mengikuti semua kehidupan dan apapun yang mereka lihat di acara MTV. Seperti berbicara gaul, campuran Indonesia-British, mengonsumsi junkfood atau budaya ’kongkow’ untuk mengisi waktu luang atau memang sengaja meluangkan waktu untuk bisa ’kongkow’ agar bisa disebut ’gaul’.
Tidak hanya sekedar itu saja, fenomena yang disebabkan oleh hadirnya MTV berkaitan erat dengan perspektif kultivasi. Analisa kultivasi mempelajari apa dan bagaimana televisi membantu menghasilkan konsepsi penonton tentang kenyataan sosial, (Bryant, J & D Zillmann. Media Effects: Advances in Theory and Research. 2002 : 45). Menurut perspektif kultivasi, televisi merupakan media utama bagi audiens untuk belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Ketika menonton acara MTV di televisi maka mereka melihat bahwa apa yang ditayangkan oleh MTV merupakan sebuah realitas yang harus dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam arti lain, persepsi yang muncul dalam benak kita sangat ditentukan oleh televisi. Melalui kontak dari televisi maka mereka belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya, dan adat istiadatnya. Seperti itulah yang terjadi dengan munculnya MTV di berbagai belahan negara khususnya Indonesia. Melalui penanaman konstruksi pesan dari MTV, budaya timur yang ada di Indonesia tergeser menjadi budaya kebarat-baratan bagi anak muda pengonsumsi MTV.
Contohnya saja ketika MTV mengkampanyekan hari HIV Aids secara besar-besaran dan disponsori oleh salah satu produk kondom. Secara tidak langsung MTV mendukung adanya freesex yang notabene merupakan budaya barat. Akibatnya anak muda Indonesia pun melupakan tradisi mereka sebagai bangsa timur yang tidak menghalalkan adanya budaya freesex tersebut.

Sabtu, 2008 April 19

Ajari aku…

Ajari aku…
Tuhan, ajari aku untuk lebih bisa mengerti daripada dimengerti oleh orang lain..
Tuhan, aku ingin lebih banyak memberi daripada harus diberi..
Aku ingin banyak menolong, daripada ditolong..
Biarkan aku untuk lebih banyak mencintai
daripada dicintai oleh siapapun, Tuhan..
Aku ingin lebih banyak menyayangi ketimbang disayangi..
Buat aku Tuhan, untuk lebih bisa menghargai daripada dihargai..
Aku juga ingin banyak menerima dibandingkan diterima..
Biarlah aku lebih banyak disakiti daripada menyakiti..
Karena bagiku,,,
menyakiti siapapun bahkan lebih menyakitkan dibandingkan disakiti..
Ajari aku Tuhan,
untuk mampu menerima setiap asa,
dalam puing-puing puzzle putaran hidupku..

-sha-
011106
catatan saat dini hari

Sabtu, 2008 Februari 23

Senin, 2007 Oktober 29

KALAU SAYANG, KENAPA HARUS KASAR?

Ini sebuah intermezo lagi..
Kemaren, gw ma pacar gw maen ke Taman Pelangi yang diadaiin di Monjali selama bulan Oktober 2007. Disana itu, diadaiin acara semacam pasar malem tapi lebih mewah dan emang Target pasar primer adalah keluarga yang mempunyai anak-anak kecil. Kaya taman bermain atau Taman Ria gitu deh...
Disana banyak orangtua yang dateng dengan anak nya. Mereka semua terlihat senang dan antusias banget main dibanyaknya arena permainan.
Lalu ketika gw istirahat di jembatan yang menuju pintu masuk Monjali, disebelah gw ada orangtua yang belum begitu tua sambil membawa anak cowok yang perkiraan gw berumur 7 tahunan gt. Gw foto2 ditempat itu, sementara keluarga kecil itu berbicara dengan agak"panas" suasananya. tapi gw ga tau mereka ngomongiin apaan.
Tiba-tiba sang ayah menampar anaknya keras bgt, ampe anak itu hampir jatoh. Anak itu lalu langsung memeluk sang ibu yang menurut gw sedari tadi menahan tangis (agak berkaca-kaca matanya). Sang ibu lalu mempererat pelukan anaknya dan menangis kecil. Setelah itu, ibu muda itu mengajak anaknya pergi untuk melihat-lihat arena permainan lain dengan tujuan menghibur anaknya, sementara sang ayah hanya merokok saja.
Gw n mas gw cuma pandang2an. Miris bgt gw liat kejadiaan itu. Dan gw tambah miris, ketika sang ibu melihat itu, dia hanya mampu terdiam, hanya mampu menangis. Kalau gw ada diposisi sang ibu, gw langsung tabok balik suami gw n ceburin ke sungai yang ada dibawahnya itu.
Biarbagaimanapun nakalnya seorang anak, tetap ada batasannya untuk menghadapi anak. Kalopun hatus terpaksa memukul anak, ya kira-kira aja dong!!! Tu bapak mukul anaknya, dah seperti nempeleng. Udah kaya lagi ngehajar maling. Bayangin aja coba, dia bisa-bisa nya menempeleng anak sendiri didepan umum, didepan banyak pasang mata. Gmn coba kalo dirumah??? Bisa babak belur kali tuh sang anak. Kalo ma anaknya aja tega, berani gw jamin pasti istrinya juga menjadi korban kebrutalannya..
Ga lama setelahnya, sang ibu dan anak balik lagi. Ayah brutal itu masih tetep aja menangkring diatas jembatan sambil ngerokok (rasanya gw pengen ceburin aja tuh manusia). Dan yang gw heran, si anak malang itu udah ketawa-tawa sama ibu nya. Ibunya juga ketawa meski keliatan bgt tawa itu sangat terpaksa. Gw bisa ngeliat kepedihan di mata sang ibu.
Gw dan ade gw juga sering dimarahin ma bonyok gw, dan gw ataupun ade gw sedih banget bahkan sering kita ngambek dan manyun gara2 diomelin. Padahal itu cuma diomelin. Syukurnya Bonyok gw ga pernah melakukan tindak kekerasan ke anak-anaknya.
Tapi anak ini sudah sangat2 diperlakukan kasar, namun sedetik kemudian dia bisa tersenyum lagi, tertawa-tawa. Seolah-olah dia ga pernah disakiti oleh orang yang dia sayang.. Gw ga tau apa dia memaafkan perlakuan ayahnya atau tidak, tapi yang gw tau, anak ini sangat tangguh, anak ini tidak merasa perlakuan ayahnya sebagai sebuah gangguan yang berarti, dan gw sangat ngerasa ga ada apa2nya sama dibanding ini. Betapa hebatnya anak lelaki kecil ini.
Buat gw, kejadiin ini sebuah pelajaran hidup lagi buat gw. Banyak banget yang bisa gw syukuri dalam hidup gw ketika gw liat kejadiian ini didepan mata gw. Gw bersyukur memiliki orangtua yang tidak pernah berbuat kasar ke anak-anaknya (nyokap gw pernah mukul gw wktu gw kecil karena gw bndel, tapi abis itu yang nangis kejer bukannya gw tapi malah dia, he2, dan akan gw inget sampe kapanpun kejadiaan ini). Gw bisa belajar dari anak kecil tadi, bahwa biar bagaimanapun jeleknya orangtua kita, kita tetap harus bisa memaafkan mereka, harus tetap menyayangi mereka dan menghormati mereka.
Gw juga belajar sebagai seorang perempuan yang nantinya akan menjadi seorang ibu, bahwa gw ga boleh kalah sama lelaki ataupun suami gw. Meski gw tau gw harus menghormati dan menurut pada suami, namun tetep aja, ga selamanya suami atau lelaki itu bisa menjadi teladan.. Jadi biarbagaimanapun, selain gw harus menurut pada suami gw kelak, tetep aja gw juga harus berkata TIDAK atau SALAH ketika dia melakukan yang tidak benar, bukan berarti gw mau ngelawan suami tapi gw atau anak gw nanti memiliki hak untuk ngerasa nyaman dan bahagia sementara suami gw memilki kewajiban untuk ngelindungi anak istrinya, bukan malah mengasari dan membuat ga nyaman, seperti yang dilakukan Ayah brutal tadi (bener de, rasanya pengen gw ceburin tuh orang).
Gw pernah denger pepatah yang mengatakan bahwa "cinta anak sepanjang galah namun cinta orangtua sepanjang jalan". Namun setelah gw liat perilaku anak kecil tadi, gw jadi belajar bahwa ternyata ga semua anak yang cuma sepanjang galah aja cintanya ma orangtua, ga cuma anak aja yg durhaka ma orangtua. Toh kita tau banyak orangtua yang ninggalin anaknya, memperkosa anaknya, menjual anaknya, menjadikan anaknnya yang masih kecil sebagai tulang punggung yg mengharuskannya menafkahi orangtua itu (pengemis kecil dijalan kan gitu), sementara sang orangtua berleha2 menunggu hasil kerjaan anaknya untuk dipakai foya2. Jadi menurut gw, ga selalu anak yang durhaka ma orangtua, tapi juga ada beberapa fenomena orangtua durhaka sama anaknya.
Gw sekarang jadi kepikiran sama anak dan ibu tadi dan akhirnya gw juga mikirin buat orang-orang yang senasib ma mereka (baik yang gw kenal ataupun semua orang yang mengalaminya), apa yang saat ini sedang terjadi dengan mereka? Saat gw nulis ini pun gw kepikiran mereka, apa mereka sekarang sedang tertidur pulas atau sedang diperlakukan kasar ma suami atau ayah mereka? Banyak banget ya ternyata yang lebih buruk nasibnya dibandingin kita, jadi seharusnya kita selalu merasa bersyukur atas apa yg kita miliki dan yg terjadi dalam hidup kita ini, meski memang tidak sedikit yang lebih baik hidupnya dibanding kita, tapi BANYAK JUGA YANG HIDUPNYA LEBIH BURUK DIBANDINGKAN KITA...

Gw jadi mikir lagi, katanya semua orangtua SAYANG sama anaknya,
Namun, kalau sayang kenapa harus KASAR?

Minggu, 2007 Oktober 07

Agama (Sarana persatuan Bangsa atau Pemicu Konflik Umat beragama?)

Kalau kita berbicara mengenai peran agama dalam kehidupan kita sehari-hari, alangkah sangat krusial dan dilematis bgt. Disatu sisi agama merupakan pedoman kita untuk hidup, namun disisi lain, jika kita melihat real nya, agama dimana-mana dijadikan sebuah alasan dalam berbagai konflik yg ada. banyak kubu2 berbeda keyakinan yg mengatasnamakan agama dalam mempertahankan idealisnya.
seperti banyak masalah terjadi ttg perang antar umat beragama yg sering terjadi dibeberapa daerah, baik di lingkup Indonesia maupun lingkup Dunia. belum lama ini yang terjadi di Indonesia adalah kasus Poso. Banyak pertumpahan darah dan korban meninggal hanya karena masalah yg ga jelas. banyak juga dari korban-korban yang meninggal itu sebenernya ga tau inti dari masalahnya. mereka hanya merasa perlu bertindak dalam rangka kesetiaan dan kesolideran mereka terhadap agama dan rekan-rekan sesama agamanya. padahal belum tentu juga apa yang mereka bela itu benar...
itu masalah langsungnya. lalu bagaimana dgn masalah yg tidak langsungnya?
peran media massa sangat penting dalam hal ini. ketika sebuah media massa memberitakan ttg pertikaian umat beragama disalah satu daerah, case yang akan muncul adalah reaksi dari masyarakat diluar daerah tersebut. sudah menjadi pengetahuan umum bahwa masyarakat dunia, khususnya masyarakat kita yang selalu menerima mentah-mentah apa yg mereka lihat tanpa akan menelaahnya terlebih dahulu. hanya sebagian kecil masyarakat yg akan melihat sisi lain dari masalah yg timbul.
mayoritas dari mereka, akan melalakukan tindakan. entah dengan mengintimidasi dan penjegalan orang-orang dari agama yg berbeda, ataupun demo disana-sini. perbuatan2 tersebut dilakukan atas nama
SOLIDERITAS...
namun yg perlu ditekankan adalah, Solider untuk hal apa? atau Solider dalam bentuk bagaimana?
mereka kan ga tau apa yg sebenar-benarmya terjadi. penjegalan-penjegalan yg dilakukan bukan malah akan ngebuat masalah baru? bukan malah meruncingkan masalah?
selain itu juga, sering terjadi penjegalan dari beberapa pihak terhadap orang yg berbeda agama dari diri mereka. padahal pihak korban penjegalan itu tidak mengerti apa-apa...
kan kasian korban yg ga ngerti apa-apa itu...
masalahnya, knpa banyak orang terlalu berpikiran sempit gt c? emg ga da ya cara yg lebih baik?
terus buat apa belasan tahun kita belajar PPKN? PPKN kan mengajarkan kita untuk saling menghormati antar umat beragama. negara kita kan menjamin hak kita untuk memeluk agama menurut kepercayaan kita masing2, tp knp masih sering terjadi konflik yg berbau agama?
emg ga ada sedikitpun yg nyantol apa dari pelajaran PPKN yg isinya ttg Toleransi, Tenggang rasa, hormat-mengormati dan kawan2nya itu?
Toh kita semua percaya bahwa semua agama mengajarkan baik. namun ternyata semua masih tergantung dgn personnya masing2 jg ya? Realnya adalah bagaimana kita atau semua orang menalaah ajaran agama nya masing2. ga ada satu agama pun yg mengajarkan ttg pertikaian dan permusuhan...
Makanya, tolong dong jangan mengotori ajaran agama yg suci dgn perbuatan2 anarkis dan ga bermoral serta jauh dari estetika.
gw inget bgt pelajaran PPKN dulu, disana ada teori yg mengatakan bahwa kita harus fanatik terhadap agama kita sendiri, tapi fanatik buat diri kita masing2. kita ga boleh fanatik keluar, yg artinya bahwa kita ga boleh memaksakan pendapat kita dan merasa bahwa agama kitalah yg paling benar.
kalo teori itu bener2 dilakukan oleh semua orang yg ada didunia ini, gw yakin bgt kalo kerukunan antar umat beragama pasti akan tercipta dan ga kan ada lg yg namanya permusuhan. toh kita sama2 percaya bahwa kita diciptakan oleh Tuhan yang sama, Tuhan yang Esa. so, seharusnya kita harus saling mengasihi dan menghormati. kita cuma beda dalam cara berpikir dan beribadah serta mengucap syukur...ketika itu semua berbeda kita ga kan bisa sama dalam persepsi, jd ga da gunanya kalo kita maksain idealis kita. iya ga c?
kembali lg ke peran media massa. jika masalah SARA terjadi, seyogiyanya media massa harus bener2 memperhatikan dan mempertimbangkan bagaimana isi dan penyampaian berita itu. jgn sampe ada keberpihakan kpd salah satu kubu dan memojokan kubu lain. Pertimbangan itu harus dilakukan karena mayoritas dari masyarakat kita kalau dalam hal agama jarang ada yg bisa berpikiran Liberal, meski orang itu sangat moderat. Moderat kan belum tentu liberal.
Media harus bersikap netral tanpa ada pemberian opini sedikitpun. serta alangkah lebih baik lg jika pihak media menggunakan sistem Jurnalisme Damai. Dimana media akan berusaha menjadi mediator terhadap pihak-pihak yg bertikai dgn tujuan untuk melerai dan mendamaikan pihak2 yg bertikai itu..
ngomong-ngomong soal orang liberal, baru2 ini jogja TV mendapat ancaman dari FPI karena menyiarkan program acara berjudul 'Kongkow bareng Gusdur' (tokoh islam yg sangat liberal dan gw ngefans bgt akan pemikirannya yg sanagt logis dan liberal, meski gw kristiani). program acara ini bertajuk ttg lintas agama. FPI merasa berang akan Gusdur. mereka mengancam jika acara tersebut terus ditayangkan, FPI akan menghancurkan gedung Jogja TV. akhirnya Jogja TV menghentikan penayangan acara tersebut. gw ga mau mengomentari apa-apa ttg perbuatan FPI ini. gw cuma menyayangkan sikap yg dilakukan FPi karena menurut gw acara ini sangat bagus dalam upaya membangun pengetahuan dan menciptakan kerukunan antar umat agama. yg paling bikin berang, di sebuah forum ttg masalh ini, ada orang yg comment kalo perbuatan FPI benar karena jika ada seorang liberal memberikan ceramah artinya sama aja menyesatkan umat beragama. ga tau d gmn dan dimana benernya pernyataan orang ini..
Gw prihatin bgt akan FPI, bukan bermaksud memojokan, tapi sudah menjadi pengetahuan umum bahwa FPI sering bertindak anarkis dalam banyak hal, meski mungkin maksud FPI baik namun alangkah sangat lebih baik jika FPI tidak menggunakan sistem anarkis dalam mengatasi sebuah masalah..(sebelum masalah Jogja TV, FPI melakukan pengrusakan kpd warung makan yg berjualan dibulan puasa).
so, ada baiknya kita kembali lg berintrospeksi akan keberadaan agama di dalam hidup kita.
apakah kita setega itu menjadikan agama yg mengajarkan hal baik dan berkedudukan sangat suci sebagai sebuah pemicu konflik?
ATAU..
apakah sebaiknya kita menghargai dan mau mengikuti ajaran agama untuk menjadikannya sebagai sarana pemersatu bangsa dan menjadikannya wadah berkumpulnya orang2 yang percaya akan Tuhan serta membuat kita menjadi manusia yang menciptakan kedamaian dimanapun dan dalam hal apapun?!...

Rabu, 2007 Oktober 03

JANGAN LIAT TAMPANG..!!!!

Sebenernya c cuma intermezo aja, sebuah pengalaman yg pernah gw rasain yg akhirnya ngebuat mata dan pikiran gw menjadi lebih terbuka lg tentang dibalik sesosok orang...
begini ceritanya :
liburan semester kemarin kan gw pulang ke jakarta dan pada suatu hari gw janjian ma sodara gw di blok M.

awalnya gw mau naik Bus way, tp klo dr t4 gw (kampung melayu-red) mesti 2x transit n makan waktu lama bgt gt...akhirnya gw lebih memilih naik bus kota arah kampung melayu-blok M. gara2 busway, mayoritas bus jadi dikit penumpang. gw dpt bus yg sepi n t4 duduk pewe bgt (dkt jendela n sendiri pula duduknya). akhirnya bus pun melaju menuju blpk M. Ga brapa lama naiklah seorang pengamen bertampang preman.. banyak codet dimukanya, dandanan nya menyeramkan dan nakutin bgt. karena bus dijakarta terkenal bnyak copet ataupun rampok, gw dah takut bgt, scara gw cuma pergi sendiri n ga banyak penumpang pula. akhirnya untuk membuat nyaman dan mengantisipasi supaya gw ga di apa2in, gw mengambil posisi semenjorok mungkin supaya tuh pengamen ga bisa liat gw, terus gw merem n pura2 tidur biar dia ga ngubris gw. setelah ucapan pembuka sang pengamen selesai dia mulai gonjreng2 gitarnya, awalnya gw ga tau itu lagu apa, karena intro nya ga jelas. tapi begitu dia mulai nyanyiin lirik pertama lagu nya, gw kaget setengah mati. pengamen yg udah gw takutin dan gw duga2 jahat,

nyanyiin lagu rohani kristen. awal lagu yg pertama lirinnya gini : hari ini kurasa bahagia, berkumpul bersama saudara Seiman, trus reffnya gini : Bergandengan tangan dalam kasih dalam satu hati... lagu kedua judulnya Sejauh timur dari barat n lagu ketiga judulnya Seperti rusa rindu... ( buat yg kristiani pasti tau lagu2 ini ).
gw langsung melek n ngeliat pengamen bertampang preman itu nyanyiin lagu2 nya dengan senyum iklas.. SUMPAH gw ngeras jahat bgt.. gw dah nganggep tuh pengamen jahat hanya karena tampangnya nyeremin n kaya preman...
itulah salah satu sifet jelek manusia yg selalu menilai orang cuma dr tampang, cuma dr penampilan luarnya, tanpa berpikir sedikitpun adanya kemungkinan2 dibalik semua itu.
kali aja codet dimuka tu pengamen ada karena dia berantem ma berandalan untuk membela keluarganya, atau temannya, atau dia pernah dikeroyok preman beneran hingga akhirnya dia terpaksa berdandanan ala preman supaya ga dijahatin orang. atau mugkin dia cuma mampu berdandan seperti itu karena hanya mampu membeli baju2 yg seperti preman. mungkin uangnya dipake untuk menghidupi keluarganya...
Siapa yg tau c apa yg harus dia tanggung?
meski mungkin kemungkinan2 yg gw ungkapakan diatas td belum tentu bener, plg tidak gw sudah mencoba untuk berpikir positif, lagipula gw mendapatkan sebuah pelajaran lain dr dia, pengamen yg gw sangka preman itu seolah2 Menampar muka gw sekenceng2nya.. karena pada hari itu adalah hari minggu dimana seharusnya gw ke gereja. tp gw malah maen ke Blok- M n dah sangat berpikiran negatif ttg orang hanya karena ngeliat tampangnya aja. pada saat itu juga, gw berpikir kalo orang yang dah gw sangka jahat atau mafia merupakan perpanjangan tangan Tuhan. Tuhan bekerja untuk mengingatkan gw atau penumpang yg ada di bus melalui pengamen bertampang preman ini. alangkah mahadahsyatnya memang ya Tuhan tu. Ia bekerja secara tidak langsung namun melalui relitas sosial yg ngebuat kita berpikir, belajar dan mengambil hikmahnya sendiri..
untuk menebus kesalahan karena gw dah berprasangka buruk ke pengamen itu, gw akhirnya memberi uang lebih. apalah artinya uang yg tidak begitu banyak dr gw untuk dia dibandingkan pembelajaran dan hikmah yg gw dpt melalui orang bertampang preman ini... bener2 ga sebanding uang yg gw kasih dibandingin hal2 yg gw dapet karena dia..
meski di bus itu panas bgt, gw ga nyesel ataupun ngeluh karena gw bisa bertemu orang seistimewa itu.. kali aja dia sebenernya malaikat tanpa dia sadar.. meski dia hanya seorang pengamen bertampang preman, gw menganggapnya sebagai perwujudan malaikat...
negatif thinking itu emang ga salah, tp gunakanlah pada porsi yg tepat.. gunakan hal itu untuk kita waspada, karena kita ga pernah tau apa yg akan terjadi...
namun alangkah baiknya lg kalo kita bisa selalu positif thinking, karena selain sehat, kita juga bisa mendapat pembelajaran yg sangat indah dari hal itu. kita ga pernah tau kalo hanya melihat permukaan aja, ada baiknya kita memikirkan kemungkinan2 yg ada dibalik atau dibawah permukaan itu...
maka gw setuju bgt adannya asas hukum negara kita, yaitu PRADUGA TAK BERSALAH...
yuk bareng2 kita terapin itu... karena gw ataupun kalian semua bisa belajar dari setiap realitas hidup yg ada...

semoga kejadian yg gw alamin ini bisa menjadi pembelajaran buat kalian semua..


regards...
-sha-